Kuseret langkahku menyusuri tapak yang tak selalu ramah pada kaki renta. Jatuh dan bangun adalah bahasa tubuh yang tak ingin kukeluhkan.
Kuantar engkau dengan doa-doa paling sunyi, kuserahkan namamu pada arus yang berangkat. Rindu kupendam, kusimpan rapi menemani sabar yang belajar menua.
Pasang dan surut air berganti, waktu berpacu tanpa menoleh. Deru mesin bersahutan, mengiris senyap pagi dan petang. harapku sederhana rupamu pulang menyapa ragaku.
Tepian sungai tak pernah absen, batas negara menjadi saksi cinta yang tak pandai pergi. Deru mesin menjelma sajak, kubaca berulang hingga lelah terasa jinak.
Esok hari, kasihku... aku masih di sini. Menunggumu di tempat yang sama, meniti hari tua kita hingga penantian tak lagi perlu kata.
Ibu Cia
Aji Kuning, 23 Desember 2025
(Komunitas Pena Tapal Batas Sebatik)






