Press "Enter" to skip to content

Tepi Penantian

Kuseret langkahku
menyusuri tapak
yang tak selalu ramah pada kaki renta.
Jatuh dan bangun
adalah bahasa tubuh
yang tak ingin kukeluhkan.
Kuantar engkau
dengan doa-doa paling sunyi,
kuserahkan namamu
pada arus yang berangkat.
Rindu kupendam,
kusimpan rapi
menemani sabar yang belajar menua.
Pasang dan surut air berganti,
waktu berpacu tanpa menoleh.
Deru mesin bersahutan,
mengiris senyap pagi dan petang.
harapku sederhana
rupamu pulang
menyapa ragaku.
Tepian sungai tak pernah absen,
batas negara menjadi saksi
cinta yang tak pandai pergi.
Deru mesin menjelma sajak,
kubaca berulang
hingga lelah terasa jinak.
Esok hari,
kasihku... 
aku masih di sini.
Menunggumu
di tempat yang sama,
meniti hari tua kita
hingga penantian
tak lagi perlu kata.

Ibu Cia
Aji Kuning, 23 Desember 2025
(Komunitas Pena Tapal Batas Sebatik)

Bagikan :
error: Hubungi Redaksi