Di ujung Utara peta negeri
perempuan berdiri tanpa sorot lampu
Namanya tak dikenal zaman
Tak tercatat pada laporan
Tapi doa tulusnya menguatkan tiang
batas negara
Ia terjaga di sepertiga malam
lebih pagi dari mentari
mengusap harap
di dada jantung hati
Sementara angin perbatasan
berkabar tentang
harga, jarak, dan keterbatasan.
Ia belajar menjadi kuat
tanpa keluh
menjadi ibu,
Menjadi guru,
Menjadi pahlawan tanpa nama
Menjadi penjaga nilai
di ruang-ruang sunyi kehampaan
Meski luput dari sorak sorai pembangunan
Namun,
tahun ini mengajarkannya satu hal:
bertahan saja tidaklah cukup
Perempuan tapal batas
bertanya pada diri:
“Apakah aku hanya penjaga garis batas,
atau bisa menjadi penentu arah?”
Ia mulai belajar membaca dunia
tanpa meninggalkan akarnya
belajar, berdaya, bersuara
tanpa kehilangan adab dan iman.
Tahun mendatang dan berikutnya,
tak lagi sekadar kuat
ia harus tahu akan nilainya.
Menjadi perempuan
Berakhlak dan berilmu
bukan untuk meninggi,
tetapi mampu menuntun.
Menjadi perempuan yang berani
bukan untuk melawan,
tetapi untuk menjaga
generasi tangguh dan bermartabat
Perbatasan tak lagi hanya garis di peta
ia adalah wajah perempuan yang tercerahkan dan hijrah
yang mengajarkan anak-anaknya
mencintai negeri karena Tuhannya
tanpa harus meninggalkan jati diri.
Dan di akhir tahun ini,
perempuan perbatasan
khusyuk dalam doa:
Ya Rabb,
jadikan kami bukan hanya saksi zaman, tetapi pelaku kebaikan
bagi negeri dari ujung
Terus ke pusat
Biarlah Tuhan yang mencatat sebagai pahala
Enawati
Kampung Giring Giring, 28 Desember 25
(Komunitas Pena Tapal Batas Sebatik)






