NUNUKAN, marajanews.id – Ratusan pelaku usaha Pasar Tani mendatangi kantor DPRD Nunukan, Kamis (7/5/26), untuk menyampaikan aspirasi penolakan terhadap rencana relokasi pasar dari kawasan Alun-Alun Nunukan menuju Tanah Merah.
Massa yang terdiri dari pedagang sayur, penjual makanan olahan, hingga pelaku UMKM lokal itu meminta pemerintah daerah menunda kebijakan pemindahan sebelum digelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD.
Pelaku Usaha dan UMKM mendatangi kantro DPRD Nunukan dipicu oleh surat edaran penutupan Pasar Tani per 10 Mei, memunculkan keresahan lantaran para pedagang merasa belum pernah dilibatkan dalam pembahasan maupun pengambilan keputusan terkait pemindahan lokasi usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga di Nunukan.
Pengelola Pasar Tani, Kadir, menuturkan keberadaan pasar tersebut lahir dari kebutuhan para petani lokal yang kesulitan memasarkan hasil panen, menurutnya, Pasar Tani awalnya dioperasikan sederhana dengan sistem berpindah-pindah lokasi sebelum akhirnya mendapat fasilitas berjualan di kawasan alun-alun sejak 2019.
“Awalnya petani susah memasarkan hasil pertanian. Dari situ Pasar Tani mulai dibentuk, dulu berpindah dari kantor ke kantor sebelum akhirnya difasilitasi di alun-alun,” kata Kadir saat menyampaikan aspirasi di kantor DPRD Nunukan.
Kadir menjelaskan, perkembangan Pasar Tani tidak lepas dari dukungan Dinas Pertanian dan pemerintah provinsi yang sempat memberikan bantuan promosi produk olahan pertanian, seperti ubi, jagung, kacang panjang, hingga aneka makanan rumahan mulai dikenal masyarakat dan perlahan mendorong pertumbuhan pelaku UMKM di Nunukan.
Seiring waktu, Pasar Tani berkembang pesat dan kini menaungi sekitar 220 pedagang aktif. Kadir menyebut pasar tersebut bukan lagi sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan ruang penghidupan masyarakat kecil yang menggantungkan kebutuhan rumah tangga dari aktivitas perdagangan setiap akhir pekan.
“Ini bukan pasar kecil lagi. Ada ratusan keluarga hidup dari sini. Karena itu pedagang merasa keberatan kalau dipindahkan tanpa pembahasan bersama,” ujarnya.
Penolakan relokasi juga disampaikan pedagang lain, Abdi Rupa. Menurutnya, lokasi baru di Tanah Merah dinilai kurang strategis dan pernah menyebabkan pedagang merugi saat dipakai sementara selama Ramadan lalu.
“Kalau dipindahkan permanen ke sana, kami khawatir pembeli sepi lagi. Dulu saat berjualan di Tanah Merah, banyak pedagang mengeluh pendapatan turun drastis,” ungkapnya.
Sementara itu, warga Nunukan sekaligus pengamat Pasar Tani, Fajar, menilai keberadaan Pasar Tani di kawasan alun-alun telah tumbuh menjadi ruang sosial masyarakat. Selain menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat, kawasan tersebut juga ramai dimanfaatkan warga berolahraga, berkumpul bersama keluarga, hingga menikmati suasana akhir pekan.
“Pasar Tani bukan cuma tempat jual beli. Di sana ada ruang pertemuan warga dan denyut ekonomi masyarakat kecil yang sudah hidup bertahun-tahun,” katanya.#Adv









