Oleh : Enawaty
ADA YANG GANJIL dari negeri bernama Indonesia. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya menyimpan kekayaan, perut buminya mengandung mineral, sementara langitnya membentangkan garis khatulistiwa.
Rempah-rempah pernah mengundang bangsa-bangsa asing berlayar melintasi samudra demi menemukan kekayaan Nusantara. Namun, setelah berabad-abad berlalu, sebuah pertanyaan masih belum menemukan jawaban yang memuaskan: mengapa negeri yang terlampau kaya masih membiarkan begitu banyak rakyat hidup dalam kemiskinan?
Barangkali Indonesia memang sebuah sajak panjang yang belum selesai ditulis. Setiap pulau menjadi larik, setiap lautan menjadi jeda, setiap gunung menjadi tanda baca, sedangkan manusia yang menghuninya menjadi pemilik cerita.
Dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote, tersusun sebuah komposisi kebangsaan yang begitu megah. Sayangnya, keindahan peta tidak selalu sejalan dengan kehidupan mereka yang tinggal di dalamnya.
Ada desa yang belum menikmati jalan layak, ada masyarakat yang masih berjuang mendapatkan air bersih, ada anak-anak yang harus menempuh perjalanan jauh demi memperoleh pendidikan.
Indonesia memiliki banyak kata indah untuk menggambarkan dirinya. Merdeka, berdaulat, adil, makmur, sejahtera, dan berkeadilan sosial. Kata-kata itu tumbuh subur dalam pidato, terpampang pada baliho, menghiasi dokumen kenegaraan, bahkan berulang kali menjadi janji dalam panggung politik.
Namun, bahasa dapat kehilangan kesuciannya ketika terlalu sering diucapkan tanpa kesungguhan dalam perbuatan. Pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari susunan kalimat. Mereka hidup dari pekerjaan, penghasilan, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang setara.
Di tanah yang terlampau kaya ini, kekuasaan sering kali menjadi panggung dengan lampu paling terang. Mereka yang berdiri di atasnya mendapatkan sorotan, sementara kehidupan masyarakat di bawah panggung terkadang berjalan dalam kesunyian.
Kekayaan alam diperebutkan, kebijakan diperdebatkan, jabatan dipertukarkan, sedangkan rakyat menunggu hasil yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada ironi ketika sumber daya yang semestinya menopang kesejahteraan justru menyisakan pertanyaan tentang siapa yang paling banyak menikmati hasilnya.
Barangkali, kemiskinan Indonesia tidak hanya dapat dibaca melalui angka statistik. Ada kemiskinan yang bersembunyi di balik rumah-rumah sederhana, di meja makan yang tidak selalu penuh, di ruang kelas yang kekurangan fasilitas, serta di wajah para pekerja yang menghabiskan sebagian besar hidupnya demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Ada pula kemiskinan yang lebih sunyi, yakni ketika seseorang kehilangan kesempatan menyampaikan pendapat, ketika keadilan terasa jauh, dan ketika suara masyarakat kecil tenggelam di antara riuh kepentingan orang-orang berkuasa.
Lebih menyedihkan lagi, negeri ini kerap memperlihatkan keganjilan dalam menentukan perkara yang menyita perhatian. Perdebatan mengenai ijazah seseorang dapat berlangsung panjang, memenuhi percakapan publik, bahkan mengundang pertarungan pendapat yang tidak berkesudahan.
Sementara itu, persoalan kabut asap, kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan ancaman kesehatan masyarakat terkadang hanya memperoleh perhatian sesaat. Seolah-olah kegaduhan lebih mudah dipelihara daripada kesadaran. Padahal, udara yang tercemar tidak mengenal jabatan, tidak membaca gelar akademik, dan tidak membedakan siapa yang memiliki kekuasaan.
Di tengah keadaan demikian, kata-kata masih memiliki tempat untuk berdiri. Puisi, esai, berita, dan berbagai bentuk tulisan dapat menjadi saksi atas peristiwa yang sering dilupakan. Pena mungkin tidak mampu menghentikan seluruh ketidakadilan dalam satu malam, tetapi tulisan dapat menjaga ingatan agar masyarakat tidak mudah melupakan apa yang pernah terjadi. Kata-kata dapat membuka mata, mengusik kesadaran, serta mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan memiliki batas dan amanat rakyat memiliki konsekuensi moral.
Kepada generasi muda, kepada mereka yang masih menyimpan kegelisahan terhadap keadaan bangsa, jangan biarkan pikiran berhenti pada keluhan. Bacalah keadaan dengan jernih, pelajari persoalan dengan sungguh-sungguh, dan tuliskan apa yang perlu disampaikan.
Tidak semua perlawanan harus berlangsung dengan suara keras. Ada perlawanan melalui pengetahuan, ada keberanian melalui kejujuran, ada perubahan yang berawal dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap lumrah. Merangkai kata juga dapat menjadi pekerjaan kebangsaan ketika kata-kata itu berpihak pada kebenaran.
Indonesia memang terlampau kaya untuk terus-menerus memelihara kemiskinan sebagai cerita turun-temurun. Terlalu luas untuk membiarkan sebagian masyarakat merasa jauh dari pusat pelayanan. Terlalu indah untuk terus menanggung luka akibat keserakahan manusia.
Negeri ini memerlukan lebih dari sekadar kebanggaan terhadap lambang, bendera, dan sejarah perjuangan. Ia memerlukan keberanian memperbaiki kehidupan, kesediaan mendengar suara rakyat, serta kesungguhan mengelola kekayaan alam secara adil.
Pada akhirnya, elegi ini tidak ditulis sebagai ratapan yang kehilangan arah. Ia merupakan surat panjang kepada sebuah negeri yang masih kita cintai, meskipun sering membuat kita kecewa. Indonesia adalah rumah dengan halaman yang luas, tetapi setiap penghuninya berhak menikmati keteduhan yang sama.
Peta boleh menggambarkan batas daratan dan lautan, tetapi tidak pernah mampu mengukur kedalaman penderitaan manusia di dalamnya. Selama masih ada rakyat yang menunggu keadilan, selama masih ada anak yang bermimpi di tengah keterbatasan, selama masih ada kekayaan yang belum menghadirkan kesejahteraan, sajak tentang Indonesia belum boleh mencapai titik akhir.
Sebab, tanah yang terlampau kaya tidak semestinya terus melahirkan kisah tentang kemiskinan. Dan sebuah bangsa yang besar tidak seharusnya hanya dikenang melalui kemegahan kata-katanya, melainkan melalui cara memperlakukan manusia yang hidup di dalamnya.
Penulis Adalah : Pagiat TBM Patok II Kecamatan Sebatik,- Sebatik 4 November 2026






