Press "Enter" to skip to content

BPS Nunukan Rilis Data Inflasi Juni 2025 Naik Hingga 0,32 Persen

NUNUKAN, marajanews.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan merilis data inflasi bulan Juni 2025 yang menunjukkan kenaikan sebesar 0,32 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Angka tersebut menempatkan Nunukan sebagai daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Provinsi Kalimantan Utara untuk periode tersebut.

Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan, inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan energi rumah tangga.

Ia menyebutkan bahwa ikan bandeng, nasi dengan lauk, serta tarif air minum menjadi penyumbang utama terhadap inflasi pada bulan Juni.

“Inflasi bulanan Juni menunjukkan tekanan harga yang cukup terasa, terutama dari komoditas laut dan penyesuaian tarif layanan dasar seperti air minum,” ujar Iskandar di Kantor BPS Nunukan, Selasa (2/7/25).

info grafis perkembangan indek harga konsumen NUnukan Juni 2025
Infografis perkembangan indek harga konsumen NUnukan Juni 2025

Selain inflasi bulanan, BPS mencatat bahwa inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,23 persen, sementara itu, inflasi kumulatif dari awal tahun hingga Juni 2025 (year-to-date/ytd) berada pada angka 1,78 persen.

Kenaikan harga ikan layang, tomat, beras, serta BBRT (bahan bakar rumah tangga) turut memperbesar laju inflasi selama semester pertama tahun ini.

Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi, antara lain cabai rawit, kangkung, tempe, tahu mentah, dan sabun deterjen bubuk.

Penurunan ini sedikit menahan laju inflasi, meski belum cukup untuk mengimbangi kenaikan harga komoditas utama lainnya.

Jika dibandingkan dengan inflasi nasional dan provinsi, Kabupaten Nunukan mencatat angka yang lebih tinggi. Inflasi nasional bulan Juni hanya sebesar 0,19 persen (mtm) dan 1,87 persen (yoy).

Sementara inflasi gabungan Kalimantan Utara tercatat sebesar 0,07 persen (mtm) dan 1,38 persen (yoy).

Kota Tarakan justru mencatat deflasi sebesar 0,08 persen (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 1,23 persen. Adapun Tanjung Selor mengalami inflasi 0,06 persen (mtm) dan hanya 0,31 persen secara tahunan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan memiliki tantangan tersendiri dalam pengendalian harga barang dan jasa.

Iskandar menambahkan bahwa kondisi geografis, keterbatasan pasokan logistik, dan ketergantungan terhadap komoditas tertentu menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga di Nunukan tentunya memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap fluktuasi harga pangan dan energi.#hmsbpsnnk

Bagikan :
error: Hubungi Redaksi