Press "Enter" to skip to content

Komisi VII DPR RI Rahmawati Zainal Kembangkan Strategi Promosi Event Daerah Berbasis Digital

NUNUKAN, SEBATIK, marajanews.id– Komisi VII DPR RI, Hj. Rahmawati Zainal mengatakan perubahan pola promosi event daerah berbasis digital menjadi kebutuhan di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat.

Pendekatan konvensional seperti pamflet dan undangan terbatas dinilai tidak lagi mampu menjangkau publik luas, sehingga strategi berbasis konten digital menjadi arah baru bagi promosi daerah.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan sosialisasi strategi promosi event daerah berbasis digital digelar Sabtu, (25/4/26) di ruang pertemuan Pelabuhan PLBN Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan.

Kegiatan ini dihadiri Kementerian Pariwisata, Okky Yonny Syahputra bersama anggota Komisi VII DPR RI, Hj. Rahmawati Zainal, diikuti ratusan peserta dari pelaku usaha wisata, masyarakat, serta perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Nunukan.

Rahmawati menegaskan bahwa promosi saat ini tidak lagi bertumpu pada metode lama, media promosi saat ini bukan soal pamflet, tapi soal konten, algoritma, jangkauan, yang disebarluarkan secara massif dan terbilang efektif dan murah.

Dalam kesempatan itu, Hj Rahmawati Zainal juga menyampaikan pengalamannya dalam perjalanan menuju Pulau Sebatik, menurutnya pengalaman tersebut meberikan kesan mendalam, apalagi pemerintah pusat telah menjangkau dan melihat wilayah perbatasan yang selama ini kerap terpinggirkan.

“Saya terharu karena perjalanan ke sini tidak singkat, tapi justru di sinilah pentingnya hadir langsung di wilayah perbatasan,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata yang tidak hanya menjalankan program di ibu kota provinsi, melainkan turut hadir di wilayah paling utara Indonesia.

Hadirnya kemenpar dinilai menjadi bukti perhatian terhadap pemerataan promosi potensi daerah.

“Saya bangga karena program ini sampai ke pulau paling utara agar promosi event daerah tidak melewatkan kita,” katanya.

Kondisi Kalimantan Utara yang memiliki keragaman budaya sekaligus tantangan geografis menjadi perhatian dalam penyusunan strategi promosi.

Infrastruktur digital yang belum merata, termasuk kualitas jaringan internet di sejumlah titik, masih menjadi kendala di lapangan.

“Di Sebatik saja sinyal masih naik turun, tapi ini bukan alasan berhenti, justru tantangan untuk lebih kreatif,” ujar Rahmawati.

Menurutnya, strategi promosi daerah tidak bisa meniru pola kota besar secara langsung. Pendekatan sederhana namun berdampak luas dinilai lebih sesuai dengan kondisi lokal.

“Kita perlu pendekatan low-tech but high-impact, seperti konten ringan, ukuran file kecil, distribusi hemat data, serta kolaborasi dengan influencer lokal dan komunitas pemuda desa yang sudah melek digital,” pungkasnya.#m03/Nrwn

Bagikan :
error: Hubungi Redaksi