NUNUKAN, SEBATIK, marajanews.id – Dunia pendidikan di Kecamatan Sebatik mempertontonkan peristiwa yang memilukan, Kepala Sekolah dan Guru di SD 001 Sebatik Tengah, dalam konflik psikologis dan diduga kepala Sekolah mengintimidasi tenaga pengajar di Sekolah tersebut.
Kini Guru Agama Islam itu mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Tarakan, lantaran syok ketika diduga mendapatkan tekanan dari Kepala Sekolah HjS.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/2/26) pagi sekira 09.00 di ruang guru, kepala sekolah HjS menurut saksi mata inisial MPP dalam tensi yang tinggi.
Saat itu Guru H hendakan mengajar disalah satu ruang kelas di Sekolah tersebut, namun aktifitas mengajarnya justru memicu ketegangan dengan Kepala Sekolah HjS.
MPP mengungkapkan suasana pagi itu berubah, ia melihat Kepala Sekolah mengangkat kursi lalu menghempaskannya tepat di depan guru H. membuat H mengaami tekanan psikis
. “Kursinya tidak kena badan, tapi suasananya sangat membuat tertekan,” ujar Mpp kepada wartawan.
Menurut MPP sebelum kursi tersebut dihempas, kepala sekolah HjS meminta Guru H meninggalkan sekolah.
Namun ucapakan Keoala Sekolah HjS tidak diindahkan karena Guru tetap ingin mengajar, dan menyelesaikan tugasnya pada hari itu.
“Ibu H disuruh pulang karena kehadirannya tidak disukai, tapi beliau bertahan mau mengajar, setelah itu emosi memuncak,” tambah MPP.
Akibat kejadian tersebut, guru H mengalami syok dan sempat pingsan, kondisinya membuat pihak keluarga segera mengambil tindakan medis.
Anak korban membenarkan bahwa tidak ada luka fisik, namun kondisi mental ibunya terganggu cukup berat.
“Badan tidak terluka, tapi ibu saya syok dan sempat tidak sadar, setelah itu bicaranya tidak teratur,” ungkapnya.
Pihak keluarga juga membawa korban ke Puskesmas Haji Kuning dan Sungai Nyamuk, namun kondisi yang tidak stabil serta penurunan nafsu makan membuat keluarga memutuskan membawa guru H ke Kota Tarakan untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
“Kami bawa ke Tarakan untuk pemeriksaan medis dan psikologis karena kondisi kesehatannya terus menurun,” kata anak korban yang menolak disebutkan namanya.
Informasi yang dihimpun hubungan antara guru H dan Kepala Sekolah itu, memang sudah lama tidak harmonis, pihak guru rencananya ingin mempertemukan kedua pihak melalui Ketua KKG hari yang sama, namun belum terlaksana karena insiden lebih dulu terjadi.
Keluarga korban menyayangkan sikap emosional yang muncul dari pimpinan sekolah. Mereka mempertanyakan kelayakan tindakan tersebut dalam lingkungan pendidikan.
“Kalau memang ada persoalan, apakah harus disikapi seperti itu di depan guru dan siswa?” ujar keluarga H.
Dikonfirmasi, Kepala Sekolah saat ini tidak berada ditempat, hingga berita ini ditayangkan, belum ada pernyataan dari pihak sekolah terkait insiden yang menimpa guru PAI tersebut.
Keluarga guru H mengatakan mereka tidak ingin persoalan berlarut-larut selama ada itikad baik dan penghormatan terhadap hak korban sebagai tenaga pendidik.
Namun demikian, keluarga masih mencermati perkembangan kondisi korban dan tidak menutup kemungkinan menempuh akan jalur lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.#m03nirwn










