NUNUKAN, marajanews.id – Suara aliran air terdengar pelan namun tak pernah berhenti dari sisi pintu pengatur Embung Sei Fatimah, Nunukan, curah hujan yang masih rutin mengguyur, genangan air yang semestinya tertahan justru menyusut setiap hari.
Sluice gate yang jebol membuat embung ini tampak seperti wadah retak, air keluar tanpa kendali dan meninggalkan permukaan yang kian menurun.
Embung Sei Fatimah sejak awal dirancang sebagai penopang kebutuhan air bersih warga Nunukan Barat. Sistem pintu air dipasang untuk mengatur debit, menjaga ketinggian, sekaligus memastikan cadangan air tetap aman ketika musim kemarau tiba, rusaknya pintu pengatur air tersebut membuat fungsi embung terganggu, bahkan tak difungsikan.

Petugas jaga embung, Agung ,setiap hari menyaksikan air mengalir keluar dari celah pintu yang rusak, kondisi ini sudah berlangsung lama tanpa perbaikan.
“Pintu air ini sudah lama jebol, air terus keluar, sementara pemeliharaan dari pihak pengelola yang berwenang hindda saat ini belum ada,” kata Agung saat ditemui di sekitar embung.
Embung yang dibangun pada 2019 tersebut memiliki daya tampung sekitar 12 ribu meter kubik, perencanaan awalnya, volume air sebesar itu diproyeksikan mampu menopang kebutuhan warga saat kemarau panjang, termasuk memasok fasilitas umum seperti rumah sakit daerah dan kawasan permukiman di sekitarnya.
Waktu berjalan, kondisi di lapangan justru jauh dari harapan perencanaan, embung Sei Fatimah tidak lagi dimanfaatkan sebagai sumber air bersih, dampaknya dirasakan RSUD Nunukan yang hingga kini masih mengandalkan suplai air terbatas dengan jadwal tertentu, situasi yang tentunya menyulitkan aktivitas pelayanan kesehatan.
Saat meninjau Embung Sei Fatimah, Kamis (8/1/26), Sekretaris Komisi I DPRD Nunukan, Muhammad Mansur berdiri di tepi tanggul, meyaksikan langsung air terus menyusut dan ia menyayangkan pengelolaan infrastruktur yang dibiarkan terbengkalai.
“Melihat kondisi Embung Sei Fatimah seperti ini, saya sangat kecewa. Embung sudah bertahun-tahun berdiri tapi tidak pernah bekerja maksimal, ini murni bentuk pembiaran,” tutur Mansur.
Menurutnya, bangunan dengan biaya cukup besar itu, semestinya memberi manfaat bagi masyarakat, namun realitasnya justru memunculkan tanda tanya besar.
“Faktanya, embung ini terlihat seperti proyek gagal, anggaran besar sudah dikeluarkan, tapi warga tidak merasakan manfaatnya,” ucap politisi Partai NasDem ini.
Mansur juga menyoroti kebutuhan air bersih di RSUD Nunukan yang seharusnya bisa disuplai dari embung ini. Selama ini, rumah sakit hanya memperoleh air pada jam tertentu.

“Kondisi seperti ini tidak bisa diterima, rumah sakit membutuhkan air setiap saat,” katanya dengan nada tegas.
Dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Divisi Pengawas BWS Kalimantan V Tanjung Selor, Taufik, menjelaskan bahwa pembangunan Embung Sei Fatimah sejak awal dirancang sebagai embung serbaguna.
“Embung ini dibangun sebagai embung multifungsi, mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air irigasi pertanian masyarakat sekitar, hingga air baku bagi warga,” jelas Taufik.
Menurutnya, lahan embung berasal dari hibah masyarakat, sementara urusan pemanfaatan air lebih berada di ranah PDAM Kabupaten Nunukan.
“Kalau membahas pemanfaatan, itu perlu dibicarakan bersama PDAM, apakah untuk air bersih, irigasi, atau kebutuhan lain,” tutup Taufik.#m03










