RAFFLESIA yang biasanya sulit ditemui di kedalaman hutan Sumatra, kini justru mekar tidak jauh dari permukiman warga di Desa Pa’Kidang, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan.
Pemandangan langka ini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan, peneliti, hingga masyarakat lokal.
Fenomena tersebut sekaligus membuka cerita menarik tentang hubungan warga dengan bunga raksasa penuh misteri ini.
Di Indonesia, menyaksikan Rafflesia mekar kerap dianggap keberuntungan besar, wisatawan biasanya perlu pendakian panjang, menembus rimba, hingga menunggu berbulan-bulan untuk menemukan satu bunga yang sempurna mekar.
Namun di Krayan, pengalaman itu terasa lebih mudah dan bahkan terjadi di jalur wisata desa.
Di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), khususnya sektor Long Bawan hingga Long Ampung, Rafflesia pricei tercatat memiliki populasi yang cukup stabil.
Desa Pa’ Kidang menjadi titik paling sering dilaporkan sebagai lokasi ditemukannya bunga tersebut.
Banyak wisatawan yang kini datang hanya untuk melihat salah satu bunga terbesar di dunia itu lebih dekat.
Lokasi wisata unggulan Desa Pa’Kidang adalah Buduk Udan, berada di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut.
Udara sejuk, jalur pendakian alami, serta pemandangan pegunungan membuat perjalanan menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Banyak pendaki yang mengaku perjalanan ke Buduk Udan bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga bertemu flora unik yang tersembunyi di jalur pulang.
Jarak pendakian menuju puncak sekitar lima kilometer. Menariknya, jalur kembali melewati habitat alami Rafflesia pricei.
Artinya, pengunjung bisa menikmati petualangan sembari berharap menemukan Rafflesia yang sedang mekar.
Di beberapa titik, papan informasi dan penanda disiapkan agar pengunjung tidak merusak tunas bunga yang sedang tumbuh.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, mengatakan bahwa meski sering ditemukan, sifat biologis Rafflesia tetap penuh teka-teki.
“Mekarnya Rafflesia pricei tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan pada umumnya. Berdasarkan hasil data monitoring, Rafflesia pricei paling sering berbunga pada bulan Agustus. Namun masih perlu monitoring berkala untuk memastikan seberapa sering Rafflesia pricei mekar,” ujarnya, Senin (24/11/25).
Pemantauan Balai TNKM mencatat keberadaan Rafflesia pricei di sejumlah desa seperti Long Api, Tang Paye, Rian Tubu, dan Paliran.
Namun Desa Pa’ Kidang menjadi pusat kunjungan wisatawan karena kemudahan akses dan peluang lebih besar menemukan bunga mekar, warga kini terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis konservasi.
Seno menjelaskan bahwa masyarakat sudah membentuk kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur yang ikut menjaga habitat Rafflesia.
“Balai TNKM melakukan pelatihan kepemanduan dan memberikan bantuan sarana prasarana seperti shelter dan papan informasi,” tuturnya.
Selain itu, kelompok monitoring khusus dibentuk untuk memastikan tunas Rafflesia terlindungi.
Sistem pengawasan ini membantu menentukan waktu yang tepat bagi wisatawan untuk datang dan berpeluang menyaksikan mekarnya bunga secara langsung tanpa mengganggu ekosistemnya.
Kepala SPTN Wilayah I, Hery Gunawan, menuturkan hubungan masyarakat dengan Rafflesia kini berubah drastic, dahulu masyarakat bahkan tidak sadar bahwa bunga tersebut memiliki nilai konservasi tinggi.
“Menurut cerita masyarakat, sebelum mengetahui bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka dan dilindungi, masyarakat memanfaatkan bunga Rafflesia untuk pakan anjing ketika di dalam hutan,” ucap Hery.
Kini, bunga yang dulu dianggap biasa justru menjadi kebanggaan warga. Rafflesia masuk ke kesenian lokal, bahkan menjadi motif tarian Dayak Lundayeh.
Identitas budaya dan konservasi perlahan berjalan berdampingan, menciptakan hubungan baru antara alam dan tradisi.
Secara ekologis, keberadaan Rafflesia pricei menjadi indikator bahwa hutan TNKM masih sehat. Bunga ini hanya tumbuh di area dengan kondisi alam yang stabil.
“Adanya Rafflesia menandakan bahwa fungsi ekologis hutan masih terjaga. Rafflesia sensitif terhadap gangguan,” lanjut Hery.
TNKM bersama masyarakat adat dan mitra konservasi terus mengembangkan konsep ekowisata agar lingkungan tetap terjaga sambil memberi manfaat ekonomi untuk warga.
Seno mengatakan perkembangan wisata di Desa Pa’ Kidang tidak hanya soal kunjungan, tetapi juga kesadaran untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Di tempat lain, Rafflesia muncul sesekali dan menjadi cerita panjang tentang penantian panjang. Namun Krayan memperlihatkan hubungan unik: bunga langka itu hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat.
Di antara hutan berkabut, rumah kayu, serta pendakian yang ramah pemula, Rafflesia pricei menjadi alasan bagi dunia untuk menoleh ke Krayan—tempat di mana alam tumbuh dalam keheningan, tetapi meninggalkan kesan luar biasa.***






