Press "Enter" to skip to content

TBM Padu dan Guper Sebatik, Membaca Bumi Merawat Lingkungan

NUNUKAN, SEBATIK, marajanews.id – Pagi di Pantai Kayu Angin terasa berbeda. Riuh tawa anak-anak berpadu dengan debur ombak, sementara pasir pantai berubah menjadi ruang belajar tanpa dinding.

Di tempat itulah Taman Bacaan Masyarakat Padu bersama Taman Bacaan Masyarakat Garuda Perkasa menghidupkan literasi dengan cara yang lebih membumi lewat kegiatan outbound bertema Membaca Bumi, Merawat Lingkungan, Minggu (4/1/2026).

Sebanyak 70 anak hadir bersama 30 orang tua dan 25 penggiat literasi dari Sebatik Tengah dan Sebatik Utara.

Mereka tidak hanya datang untuk bermain, namun juga mengenal alam sebagai sumber pengetahuan. Daun kering, pasir, dan laut menjadi media belajar yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketua Komunitas Penulis Sebatik, Enawaty, menuturkan bahwa kegiatan luar ruang seperti ini memberi pengalaman berbeda bagi anak.

“TBM tidak hanya mengajak anak membuka buku, tetapi juga mengajak mereka membaca alam. Anak belajar memahami lingkungan lewat pengalaman langsung,” kata Enawaty di sela kegiatan.

Outbound ini lahir dari rangkaian diskusi dan pembelajaran para penggiat literasi dalam Program Advokasi Pendidikan Perubahan Iklim Kalimantan Utara yang digelar Inovasi Kaltara di Kabupaten Malinau pada Desember 2025.

Gagasan yang diperoleh kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas yang menyenangkan dan mudah diterima anak.

Kegiatan diawali dengan ice breaking dan senam pagi di tepi pantai. Tubuh kecil yang semula canggung perlahan bergerak lincah mengikuti irama. Setelah itu, berbagai permainan individu dan kelompok menguji kerja sama, keberanian, dan kreativitas. Anak-anak membuat kolase dari daun, bermain rebut bola, hingga tertawa lepas saat menyelesaikan tantangan bersama.

Menjelang siang, seluruh peserta bergeser menyusuri garis pantai. Anak dan orang tua memungut sampah plastik yang terselip di antara pasir.

“Orang tua terlibat langsung dalam permainan sampai kegiatan bersih pantai. Kebiasaan baik akan lebih mudah tumbuh ketika anak melihat contoh di sekelilingnya,” tutur Enawaty.

Kolaborasi lintas Taman Bacaan Masyarakat ini meninggalkan cerita tersendiri bagi para penggiat literasi di Sebatik.

Pertemuan dua komunitas dengan latar dan pengalaman berbeda menghadirkan suasana belajar yang segar, cair, sekaligus penuh makna.

Anak-anak, orang tua, dan relawan larut dalam kegiatan yang menyatukan permainan, pembelajaran, serta kepedulian terhadap alam.

“Ini pengalaman pertama TBM Guper berkolaborasi dengan TBM Padu dalam kegiatan outbound. Banyak pelajaran dan warna baru yang kami rasakan, terutama ketika melihat anak-anak menikmati setiap proses tanpa beban,” tutur Enawaty.

Menurutnya, ekspresi gembira anak-anak menjadi energi tersendiri bagi para penggiat yang selama ini bergelut dengan aktivitas literasi di ruang terbatas.

TBM Padu dan Guper Sebatik, Membaca Bumi Merawat Lingkungan
TBM Padu dan Guper Sebatik, Membaca Bumi Merawat Lingkungan

Ketua TBM Garuda Perkasa, Kamaria, juga merasakan hal serupa. Kebersamaan antar komunitas literasi dinilai memberi suntikan semangat baru.

“Terima kasih atas kebersamaan hari ini, dukungan antar TBM membuat kami semakin yakin untuk terus menghidupkan kegiatan literasi di tengah masyarakat,” ucap Kamaria.

Ketua TBM Patok 2 Sebatik, Amran juga mengapresiasi outbond ini, kegiatan luar ruang seperti ini dinilai memberi dampak luas bagi perkembangan anak, mereka belajar bekerja sama dalam tim, menghargai perbedaan, berani mengambil peran, serta membangun kedekatan emosional dengan alam.

“ Semua itu tumbuh melalui pengalaman langsung yang dirasakan, bukan sekadar didengar.” Kata Amran.

Di tengah keriuhan permainan, Syafiq tampak paling bersemangat. Wajahnya penuh pasir, matanya berbinar, senyum lebar tak lepas sejak pagi.

“Seru sekali. Aku senang. Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, aku mau ikut,” ujarnya sambil tertawa.

Pantai Kayu Angin pun menjadi saksi bahwa literasi tidak selalu hadir dalam barisan huruf di atas kertas. Literasi hidup dalam gerak tubuh, tawa anak-anak, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dari ruang terbuka itulah, anak-anak belajar merawat bumi melalui kebiasaan sederhana yang mereka lakukan bersama.#m04

Bagikan :