Press "Enter" to skip to content

397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan

NUNUKAN, marajanews.id – Angin sore di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kamis (4/11/25), terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Kapal yang membawa 397 Pekerja Migran Indonesia dari Sabah baru saja bersandar.

\Satu per satu para deportan turun, sebagian membawa tas lusuh, sebagian lainnya menggendong anak yang tampak belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WITA, dan dermaga mendadak berubah menjadi ruang penuh cerita yang jarang terdengar publik.

397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan
397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan

Para petugas BP2MI langsung mengarahkan rombongan menuju area pengumpulan. Di sana, kartu identitas deportasi dibagikan satu per satu sambil para deportan menerima pengarahan lanjutan. “Kami pastikan semua mendapat pendataan yang jelas sebelum melanjutkan proses berikutnya,” ujar petugas BP3MI Kaltara, yang hari itu tampak sibuk mendampingi kelompok besar tersebut.

Di salah satu sudut, seorang ibu dari Sulawesi Selatan memeluk anak perempuannya yang tampak letih. Ia menceritakan bahwa dirinya bekerja di Malaysia selama lima tahun tanpa paspor. Cerita serupa terdengar dari sejumlah deportan lain, yang masuk Sabah melalui jalur laut gelap dan bekerja tanpa dokumen, hingga akhirnya diamankan otoritas setempat. “Saya cuma ingin pulang bawa anak-anak. Capek lari terus,” katanya lirih.

Setelah pengarahan, para deportan digiring menuju meja pemeriksaan Imigrasi Kelas II TPI Nunukan. Di sana, paspor mereka diberi stempel deportasi, sementara bagi yang tak memiliki dokumen, proses pendataan dilakukan lebih ketat. Pemeriksaan barang bawaan melalui X-ray pelabuhan menyusul kemudian, dipimpin petugas Bea Cukai Nunukan untuk memastikan tak ada barang terlarang yang terbawa masuk.

397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan
397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan

Hari mulai gelap ketika rombongan besar itu kembali digerakkan. Tepat pukul 19.00 WITA, kendaraan dari Lanal Nunukan, Satgas Pamtas Yon Kav 13/SL, hingga angkot sewaan BP3MI berjajar rapi menunggu. Anak-anak tampak mengantuk, sementara para orang tua mencoba tetap tenang. Mereka dibawa menuju Rusunawa, tempat singgah sementara sebelum dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Sesampainya di Rusunawa, pendataan ulang dilakukan. Petugas BP3MI membagi kamar tinggal sementara untuk 397 deportan itu. Ada yang datang dari Sulawesi Selatan dalam jumlah terbesar, 204 orang. Dari Nusa Tenggara Timur, ada 105 orang dengan wajah lelah tapi lega akhirnya mampu menginjak tanah air kembali. Provinsi-provinsi lain turut mengisi daftar itu; dari Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera.

Ragam alasan deportasi mereka menyimpan kisah pilu tersendiri. Sebanyak 110 di antara mereka lahir di Sabah tanpa paspor—generasi yang sejak kecil hidup di area abu-abu identitas. Sementara 169 orang lainnya ditangkap karena masuk tanpa dokumen resmi. Tak sedikit yang izin kerjanya habis atau disalahgunakan. Bahkan 25 deportan masuk kategori kasus narkoba. Dua lainnya tersandung kasus kriminal: satu perampokan, satu kepemilikan senjata tajam.

Di balik angka-angka itu, ada potongan hidup tentang bagaimana jalur laut ilegal Nunukan–Tawau masih terus aktif. Para tekong laut gelap masih beroperasi, membawa pekerja migran dari kampung-kampung asal mereka menuju Malaysia dengan janji pekerjaan. Sebuah pola yang terus berulang dari tahun ke tahun, seolah menjadi rahasia umum yang tak pernah benar-benar padam.

397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan
397 PMI Dideportasi dari Malaysia, Deras Kisah di Balik Gelombang Pemulangan

Bagi sebagian deportan, pemulangan ini bukan akhir, melainkan awal lain yang harus dijalaninya. Banyak yang mengaku meninggalkan keluarga di Malaysia—pasangan, bahkan anak-anak yang tak ikut dideportasi. Bagi mereka, perbatasan bukan garis di peta, tetapi batas antara dua kehidupan yang sama-sama sulit ditinggalkan.

Sementara itu, anak-anak yang ikut dideportasi tampak menjadi kelompok paling rentan. Mereka menghabiskan waktu bermain di tangga Rusunawa sambil menunggu pendataan selesai. Sebagian besar lahir di Sabah, tak fasih berbahasa Indonesia, dan harus memulai kembali hidup di negeri yang bagi mereka terasa asing tapi seharusnya adalah rumah.

Di balik kesibukan malam itu, petugas memastikan seluruh proses pemulangan berjalan aman. Namun gelombang deportasi besar seperti ini menjadi pengingat bahwa kisah migrasi tidak hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang risiko andai jalur yang dipilih tidak sah. Ketika malam turun di Nunukan, para deportan akhirnya mendapat tempat untuk beristirahat setelah perjalanan panjang dan masa-masa sulit di negeri seberang.

Pemulangan ini menutup proses monitoring pukul 19.00 WITA. Di balik barisan angka yang disampaikan otoritas, 397 PMI itu membawa pulang lebih dari sekadar tas dan pakaian. Mereka membawa cerita hidup, luka perjalanan, dan harapan baru untuk memulai kembali di tanah sendiri. Nunukan, seperti biasa, menjadi saksi pertama kepulangan mereka.***

Bagikan :
error: Hubungi Redaksi