Perempuan tangguh di kaki langit
Menyulam sabar dengan gerimis air mata
mendandang pualam di tungku sujud
Menengadah doa untuk negeri
Dengan harap tak luruh oleh angin batas.
Di setiap doa semburat mentari
tumbuh bunga jingga
tak selalu subur,
namun tetap tenang menanti rembulan
Di sepertiga malam di atas sajadah tumbuh padi menguning.
Belajar pada patok
tetap tegak meski hujan panas menerpa
Terus berjaga agar sejengkal tanah tak berpindah tuan
Mampu kuat seperti tanah,
meski dipijak digali
tetap bertahan pada kodratnya
Tetap ikhlas menghidupkan
tanpa memilih bendera
Rabb, kalau jaya kami selalu tertinggal
Biarkan iman menuntun amal tetap pada patron menuju surgamu
Jadikan cinta sebagai paspor
Keturunanku punya ingatan tentang rumah tempat kembali
Tanpa khawatir pulang bersua sanak saudara karena ada garis yang dicipta manusia
Perempuan perbatasan menyimpan doa di lubuk hati tembus ke langit menuju ilahi
Menyimpan negeri di jantung hati
Melafal doa dengan duka
Yakin “harapan tak pernah benar-benar terpisah dengan yang terkasih”
Lorong Pasar Minggu, 16 Desember 25 Oleh Enawaty ( Komunitas Pena Tapal Batas Sebatik)






