Press "Enter" to skip to content

Suara Perempuan

KALIMATNYA
bukan mantra sakti
di podium ibu kota
Bukan syair pujangga
yang lahir dari tepuk tangan
dan toa yang menggema

Suara perempuan
tak selalu tentang kursi dan jabatan
Jalanan puan
lebih sering sunyi
dan panjang

Ia murni—
Seperti ibu
yang menyelipkan nasihat
di sela sendok dan piring
Seperti mama
yang menenangkan dengan satu kalimat
Seperti ummi
yang mengeja fiqih
pelan-pelan
hingga iman tumbuh
di dada anak-anaknya

Suara itu
menggema di subuh hari
Membangunkan ibadah
lalu mimpi
yang dikejar dengan doa lirih
namun setia

Suara perempuan
Bukan riuh pemilu
Bukan hiruk koalisi
Ia tak selalu ingin dilihat
Cukup didengar
oleh langit

Ia mengajar mengaji
Mengeja huruf pertama kehidupan
Mendendangkan kidung sunyi
agar anak-anak
tak tumbuh tanpa arah

Kini,suara itu beralih rupa
ada yang tertawa terlalu keras
Ada yang menggugat dengan amarah
Ada yang lupa
bahwa suara juga bisa melukai

Sebagian menjelma teriakan
Bukan lagi panggilan kebaikan
Sebagian kehilangan makna
di antara layar
dan penghakiman

Namun suara perempuan
tetap terdengar
tetap terlihat
bahkan dari ujung negeri—
Sebab dari sanalah
nilai sering dijaga
saat dunia lupa.

Enawati

Sei Nyamuk, 22 Desember 25

Bagikan :
error: Hubungi Redaksi